Membangun Portofolio Digital Pertama dengan Bantuan AI
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia digital marketing, saya semakin menyadari bahwa memiliki representasi digital yang profesional bukan lagi sekadar pelengkap. Website pribadi bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan diri, menunjukkan pengalaman, mendokumentasikan hasil pekerjaan, sekaligus menjadi tempat bagi orang lain untuk mengenal kemampuan yang saya miliki.
Dari pemikiran tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba membuat website portofolio pribadi saya sendiri.
Menariknya, saya tidak mengerjakannya dengan bantuan developer. Saya juga tidak memiliki latar belakang sebagai web developer atau programmer. Website ini saya bangun dengan memanfaatkan AI, khususnya Claude AI versi gratis, sebagai partner selama proses pengembangan.
Hasil akhirnya mungkin belum sempurna. Masih ada beberapa bagian yang ingin saya perbaiki dan kembangkan. Namun, justru proses di balik pembuatannya menjadi pengalaman yang cukup menarik bagi saya.
Berawal dari Keinginan Memiliki Website Sendiri
Sebelum membuat website ini, saya sebenarnya sudah cukup lama memiliki keinginan untuk mempunyai portofolio digital sendiri.
Selama ini, pengalaman profesional biasanya hanya bisa ditunjukkan melalui CV, LinkedIn, atau beberapa hasil pekerjaan yang tersebar di berbagai platform. Padahal, akan jauh lebih menarik jika semuanya bisa dikumpulkan dalam satu tempat yang bisa saya atur sendiri.
Saya ingin memiliki ruang digital yang benar-benar merepresentasikan diri saya.
Di dalamnya, saya bisa memperkenalkan pengalaman, keahlian, proyek yang pernah dikerjakan, hingga berbagai hal yang sedang saya pelajari.
Dari situlah saya mulai berpikir:
“Kalau saya coba bikin sendiri bagaimana?”
Awalnya terdengar cukup sederhana. Tinggal membuat desain, menulis konten, memasukkan pengalaman, lalu website bisa online.
Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu.
Mencoba Membuat Website Tanpa Background Developer
Saya bukan developer. Pengetahuan saya mengenai HTML, CSS, JavaScript, hosting, dan berbagai hal teknis lainnya juga masih terbatas.
Namun, perkembangan AI generatif membuat proses tersebut terasa jauh lebih memungkinkan.
Saya menggunakan Claude AI untuk membantu berbagai hal selama proses pengembangan. Mulai dari menyusun struktur halaman, membuat dan memperbaiki kode, memberikan saran mengenai tampilan, memperbaiki responsive design, sampai membantu mencari penyebab ketika ada bagian website yang tidak berjalan sesuai harapan.
Bisa dibilang, saya tidak sepenuhnya “membuat website” sendirian.
Saya lebih banyak berperan sebagai orang yang menentukan apa yang ingin dibuat, bagaimana tampilannya, informasi apa yang ingin ditampilkan, kemudian AI membantu menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi sesuatu yang lebih teknis.
Di sinilah saya mulai merasakan bahwa AI generatif bukan hanya alat untuk menghasilkan teks.
AI juga bisa menjadi semacam technical partner bagi orang yang memiliki ide tetapi belum mempunyai kemampuan teknis yang cukup untuk merealisasikannya sendiri.
Tidak Selalu Berjalan Mulus
Tentu saja, prosesnya tidak selalu berjalan mulus.
Saya menggunakan Claude AI versi gratis, sehingga ada batasan penggunaan. Beberapa kali saya sampai terkena limit dan harus menunggu kuota kembali tersedia sebelum bisa melanjutkan pekerjaan.
Dalam prosesnya, saya juga sempat beberapa kali menggunakan akun lain agar bisa melanjutkan pengembangan ketika sudah mencapai batas penggunaan.
Hal seperti ini cukup menguji kesabaran.
Kadang saya sudah menemukan masalah yang ingin segera diperbaiki, tetapi justru harus berhenti karena limit penggunaan sudah tercapai.
Belum lagi ketika kode yang diberikan AI ternyata belum sesuai dengan yang saya harapkan.
Ada kalanya satu perubahan justru memengaruhi bagian lain dari website. Ada juga kondisi ketika saya sudah menjelaskan masalah dengan cukup detail, tetapi solusi yang diberikan masih perlu beberapa kali revisi.
Dari situ saya belajar satu hal penting:
Menggunakan AI bukan berarti semua pekerjaan menjadi otomatis.
Kita tetap perlu memahami apa yang sedang dikerjakan.
Semakin jelas kita memahami masalahnya, semakin baik pula kita bisa memberikan instruksi kepada AI. Dan ketika hasilnya tidak sesuai, kita juga harus mampu mengevaluasi dan menjelaskan kembali apa yang perlu diperbaiki.
Dari Netlify ke Firebase: Mencari Solusi Hosting
Setelah website mulai terbentuk, tantangan berikutnya adalah membuatnya bisa diakses secara online.
Awalnya, saya menggunakan Netlify sebagai hosting. Saya memilihnya karena proses deployment cukup mudah dan tersedia layanan gratis yang bisa digunakan untuk proyek personal.
Namun, masalah kembali muncul ketika website masih terus dalam tahap pengembangan.
Setiap kali ingin melakukan perubahan dan melakukan deploy ulang, saya mulai terbentur dengan keterbatasan credit gratis. Karena saat membuat website saya cukup sering melakukan revisi, mencoba berbagai perubahan, dan melakukan deployment berulang kali, keterbatasan tersebut akhirnya mulai terasa.
Saya sempat berpikir, kalau setiap kali ingin mengedit website harus terus memikirkan sisa credit, proses pengembangannya justru menjadi kurang nyaman.
Akhirnya saya mulai putar otak dan mencari tahu alternatif hosting lainnya.
Saya mencari berbagai pilihan, membaca dokumentasi, membandingkan layanan, dan mencoba memahami mana yang paling cocok untuk kebutuhan website pribadi saya.
Dari proses tersebut, akhirnya saya menemukan Firebase.
Setelah mencoba memindahkan website ke Firebase, proses pengembangan menjadi lebih fleksibel untuk kebutuhan saya. Saya tidak lagi terlalu terbebani oleh persoalan credit seperti yang saya alami sebelumnya di Netlify.
Bagi saya, pengalaman ini cukup menarik karena ternyata membuat website tidak berhenti hanya karena menemukan kendala teknis.
Ketika solusi pertama tidak sesuai dengan kebutuhan, kita bisa mencari alternatif lain.
Dan di sinilah AI kembali membantu. Ketika saya menemukan istilah atau konfigurasi yang belum saya pahami, saya bisa bertanya, mencari penjelasan, mencoba, kemudian melihat hasilnya secara langsung.
Saya memang belum memahami seluruh aspek teknis di balik hosting dan deployment. Namun, saya bisa mempelajarinya sedikit demi sedikit sambil mengerjakan proyek nyata.
Dari Netlify, saya menemukan kendala. Dari kendala, saya mulai mencari tahu. Dan dari proses mencari tahu itulah akhirnya saya menemukan Firebase sebagai solusi untuk website ini.
Apa yang Saya Pelajari dari Proses Ini?
Bagi saya, hal paling menarik dari proyek ini bukan hanya website yang akhirnya berhasil online.
Justru proses pembuatannya memberikan beberapa pelajaran.
1. Hambatan teknis tidak selalu harus menjadi alasan untuk tidak mencoba
Dulu, ketika ingin membuat website sendiri, mungkin saya akan langsung berpikir bahwa saya membutuhkan developer.
Sekarang situasinya sedikit berbeda.
AI membuat barrier untuk memulai sebuah proyek digital menjadi jauh lebih rendah.
Bukan berarti semua orang tiba-tiba menjadi programmer karena menggunakan AI. Namun, setidaknya AI membuat orang yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan teknis mendalam bisa mulai bereksperimen dan memahami bagaimana sebuah produk digital dibuat.
2. AI tetap membutuhkan manusia
AI memang sangat membantu, tetapi bukan berarti kita bisa menyerahkan semuanya kepada AI.
Kita tetap perlu menentukan tujuan, memberikan konteks, melakukan pengecekan, mencoba hasilnya, dan memberikan feedback.
Menurut saya, kemampuan memberikan instruksi yang jelas dan mengevaluasi output AI justru menjadi semakin penting.
3. Belajar sambil membuat jauh lebih menarik
Salah satu keuntungan membuat proyek seperti ini adalah saya belajar berbagai hal secara langsung.
Ketika ada masalah, saya mencari tahu penyebabnya.
Ketika ada fitur yang ingin ditambahkan, saya mencoba memahami bagaimana cara kerjanya.
Ketika tampilan terasa kurang bagus, saya mencoba mencari tahu apa yang membuatnya kurang nyaman dilihat.
Jadi, proses ini bukan hanya tentang membuat portofolio.
Saya juga secara tidak langsung belajar lebih banyak mengenai website, teknologi, hosting, deployment, dan berbagai hal yang sebelumnya terasa cukup teknis.
4. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna
Ini mungkin menjadi pelajaran yang paling penting.
Kalau terus menunggu sampai merasa benar-benar siap, mungkin website ini tidak akan pernah dibuat.
Saya memilih untuk mulai dengan apa yang saya punya sekarang.
Versi pertama mungkin belum sempurna. Masih ada kekurangan. Masih ada bagian yang ingin diperbaiki.
Namun setidaknya sekarang saya sudah memiliki sesuatu yang nyata.
Dan dari versi pertama inilah saya bisa terus belajar dan mengembangkannya.
Portofolio Ini Masih Akan Terus Berkembang
Website yang saya buat ini bukan sebuah proyek yang saya anggap sudah selesai.
Justru saya melihatnya sebagai proyek yang akan terus berkembang.
Ke depannya, saya masih ingin memperbaiki beberapa bagian, baik dari sisi desain, performa, struktur konten, maupun pengalaman pengguna.
Saya juga ingin menjadikan website ini bukan hanya sebagai tempat menampilkan CV secara online, tetapi sebagai dokumentasi perjalanan profesional saya di dunia digital.
Mungkin nantinya akan ada lebih banyak studi kasus, tulisan, proyek, eksperimen, dan berbagai hal yang saya kerjakan.
Dengan begitu, website ini tidak hanya menjadi “portofolio”, tetapi juga menjadi semacam arsip perjalanan karier dan proses belajar saya.
AI sebagai Partner, Bukan Pengganti
Dari pengalaman membuat website ini, saya semakin melihat AI sebagai sebuah alat yang sangat powerful.
Namun bagi saya, cara terbaik memanfaatkannya bukan dengan menganggap AI sebagai pengganti manusia.
Saya lebih melihat AI sebagai partner kerja.
Manusianya tetap menentukan tujuan dan arah. AI membantu mempercepat proses untuk sampai ke sana.
Terutama bagi kamu yang bekerja di bidang kreatif, digital marketing, content, SEO, atau bidang lain yang mungkin tidak memiliki latar belakang teknis mendalam, kemampuan memanfaatkan AI bisa membuka banyak kemungkinan baru.
Sesuatu yang sebelumnya terasa terlalu teknis untuk dikerjakan sendiri sekarang bisa dicoba secara bertahap.
Dan mungkin, inilah salah satu hal menarik dari perkembangan teknologi saat ini.
Kita tidak selalu harus menjadi ahli di semua bidang untuk mulai membuat sesuatu.
Terkadang kita hanya perlu memiliki rasa ingin tahu, kemauan untuk mencoba, dan kemampuan memanfaatkan tools yang tersedia.
Lihat Hasilnya
Setelah melalui berbagai proses, trial and error, terkena limit AI, mencari alternatif hosting, memindahkan website dari Netlify ke Firebase, memperbaiki berbagai bagian website, dan mencoba berbagai pendekatan, akhirnya portofolio digital pertama saya berhasil online.
Kalau kamu penasaran dengan hasilnya, kamu bisa melihat website portofolio saya di:
https://muchammad-awan.web.app/
Saya tentu menyadari bahwa website ini masih jauh dari sempurna.
Masih banyak hal yang bisa dikembangkan dan diperbaiki. Justru karena itu, saya dengan senang hati menerima masukan, kritik, maupun saran mengenai website ini.
Kalau kamu sempat berkunjung dan menemukan sesuatu yang menurut kamu bisa dibuat lebih baik, saya akan sangat terbuka untuk mendengarnya.
Bagi saya, website ini bukan tentang membuktikan bahwa saya bisa menjadi developer.
Lebih dari itu, proyek ini menjadi pengalaman bahwa dengan memanfaatkan teknologi yang ada saat ini, seseorang dengan latar belakang non-teknis pun bisa mulai membangun sesuatu yang sebelumnya mungkin terasa sulit untuk dilakukan sendiri.
Dan ini baru versi pertamanya.
Mari lihat sejauh mana proyek kecil ini bisa berkembang.
